Manajemen Penetasan Telur

Manajemen Penetasan Telur

Penetasan dan menetakan telur ayam, bebek atau burung puyuh menjadi popular di tingkat peternak kecil dan menengah dan bahkan di tingkat rumah tangga untuk dijadikan jenis petelur atau pedaging atau untuk menghasilkan unggas unggas yang cantik cantik untuk dipelihara sebagai binatang piaraan.

Akan tetapi, para peternak sampai saat ini masih menggantungkan untuk mendapatkan DOC yang berkualitas dari hasil persilangan telur telur galur unggul dan murni dari breeder (perusahaan penetasan telur) besar.

Secara teknis, dasar penetasan telur dan mendapatkan telur dari persilangan galur murni adalah tetap sama, baik untuk breeder besar dengan mesin modern yang full-otomatic ataupun dengan menggunakan mesin sederhana di tingkat hobbiest yang diletakkan di dapur rumah sekalipun. Yang membedakan tinggal hanyalah kualitas DOC yang dihasilkan dan pemenuhan kebutuhan DOC yang diperlukan.

Selanjutnya melalui tulisan ini, kami ingin memperkenalkan kepada para “penetas telur” pemula tentang tata cara menetaskan telur menggunakan incubator dan mengoperasikan peralatan tersebut dengan benar untuk menetaskan ayam (atau jenis unggas lainnya). Yang membedakan dalam penetasan jenis jenis unggas adalah lama waktu penetasan dan prosedurnya.

 

Manajemen Penetasan Telur

Untuk mendapatkan telur telur yang bagus untuk di tetaskan harus di yakini bahwa telur-telur tersebut berasal dari induk-induk ayam yang memenuhi syarat sebagai induk yang baik seperti:

  1. Telah di vaksinasi secara lengkap
  2. Sehat
  3. Mempunyai postur dap, bentuk badan yang baik
  4. Berasal dari galur murni

Pemilihan induk untuk menghasilkan telur tetas tersebut juga harus dijaga kualitas pakan dan pemberian vitamin yang cukup dan mereka disatukan dengan pejantan unggul yang telah diseleksi dengan ketat dan hanya yang berpostus baik serta jumlah yang sesuai dengan perbandingan induk betina yang ada, sangat disarankan agar mendapatkan telur telur fertile (dibuahi sempuma) dengan rasio yang tinggi.

Hal ini penting agar tidak menjadi sia-sia bahwa setelah beberapa saat (katakan 5 hari) setelah dimasukkan ke dalam incubator ternyata banyak yang kosong (tidak dibuahi), maka hal ini akan menjadi kerugian dan buang waktu percuma.

Besar telur dan jumlah telur hasil persilangan/ perkawinan tersebut haruslah mempunyai bentuk dan ukuran serta jumlah yang hampir sama agar didapatkan DOC (anak ayam) yang berukuran sama, sehat dan kuat.

Disamping itu, juga disarankan untuk memisahkan atau “membuang” anak ayam yang cacat, kecil atau kelihatan lemah dari sejak awal mereka menetas agar tetap dapat dipertahankan kualitas anak-anak ayam yang dipelihara.

Pemilihan ini memang memerlukan sedikit keterampilan dan latihan untuk menentukan dan menseleksi anak ayam yang memenuhi kriteria yang diharapkan. Sehingga di kemudian hari, bila mereka akan dijadikan induk, mereka dapat dikatakan bagus dan telah lewat seleksi sejak dini.

Seorang peternak yang cakap haruslah tidak memiliki ayam-ayam dengan kriteria dibawah ini:

  • Ø Paruh yang bengkok.
  • Ø Sayap yang terlipat, miring, turun.
  • Ø Kebutaan pada salah satu matanya.
  • Ø Kaki yang bengkok atau kecil dan jari jari kaki yang melengkung.
  • Ø Atau cacat lainnya yang menyebabkan kesulitan dalam makan, minum atau kawin.

Sedangkan syarat yang harus dipenuhi adalah:

ü Ayam jantan harus agresif

ü Tegap dan berperawakan tinggi

ü Suara yang nyaring, kaki dan jari jari yang lurus sempurna

ü Sedangkan untuk betinanya harus bertelur banyak, bentuk telurnya bagus dan sehat

Selanjutnya untuk di kawinkan maka ada 4 cara yang bisa dipakai yaitu (1) kawin masal (2) kawin dalam kandang-kandang kawin (3) kawin yang dipacokkan dan (4) inseminasi buatan.

Dalam mendapatkan telur tetas yang unggul menggunakan 2 cara pertama yaitu kawin masal dan kawin dalam kandang-kandang kawin. Hal ini dilakukan karena lebih mudah dalam pengaturannya dan lebih sedikit campur tangan manusia dan lebih alami. Cara lain seperti inseminasi buatan memerlukan keahlian dan pengetahuan yang lebih untuk melakukannya.

  1. Kawin “massal” berarti mengawinkan beberapa ayam betina dengan beberapa jantan dalam satu kandang yang cukup luas. Cara ini efektif dipergunakan untuk mendapatkan telur tetas dengan tingkat fertilitas yang tinggi. Sebagai perbandingan, 1 ayam pejantan untuk 6 betina sehingga bila dalam 1 kandang ditempatkan 4 ayam jantan maka betinanya dapat diberikan sebanyak 24 ekor. Dalam beberapa buku, memang dikatakan ayam arab adalah dari jenis yang jago kawin sehingga disebutkan 1 ekor jantan sanggup mengawini 5-10 ekor betina. Dalam hal ini, kami tetap memakai perbandingan yang “aman” dengan tingkat fertilitas tinggi sehingga diberikan hanya 6 ekor betina untuk 1 ekor ayam jantan dengan hasil baik.
  2. Kawin dalam kandang kawinan berarti memberikan hanya 1 ekor ayam jantan dan beberapa ekor betina untuk setiap kandangnya. Biasanya 1 ekor jantan dan 5 ekor betina. Hal ini dimaksudkan agar lebih mudah mengawasi tingkat fertilitas atau ke­mampuan kawin seekor pejantan. Tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan suatu persilangan yang direncanakan untuk kepentingan pengembangan atau seleksi khusus.
  3. Kawin yang dipacokkan berarti ayam jantan diletakkan dalam satu kandang khusus, selanjutnya betina yang akan di kawinkan dimasukkan dalam kandang pejantan. Bila pejantan telah mengawini maka sang betina dikeluarkan kembali. Hal ini juga kami lakukan terhadap ayam Bangkok sebab bila dipakai cara ke (2) diatas maka telur yang dihasilkan selalu dimakan kembali oleh ayam-ayam tersebut. Sehingga, bila betina Bangkok telah dikawin oleh pejantannya, maka betina tersebut dikembalikan ke kandang batere agar bila bertelur akan aman dari dimakan kembali oleh mereka.
  4. Inseminasi buatan adalah cara yang biasa dipakai untuk mengawinkan ayam-ayam dengan beda umur yang cukup jauh, atau untuk mendapatkan persilangan tertentu karena dalam keadaan normal mereka tidak saling/susah untuk kawin seperti misalkan mengawinkan ayam kate dengan ayam Bangkok. Metode ini tidak atau jarang digunakan karena tidak praktis dan memerlukan peralatan dan keahlian serta pengetahuan khusus.

Di dalam mendapatkan telur tetas, seorang peternak ayam harus juga melengkapi kandang kandangnya dengan sangkar untuk bertelur atau setidaknya bila meng gunakan kandang postal maka kandang tersebut harus selalu menggunakan sekam yang cukup ketebalannya dan kebersihannya. Hal ini dimaksudkan agar telur tetas yang dihasilkan akan terjaga kebersihannya dari tanah, kotoran ayam atau malah bibit penyakit menular lainnya. Hal ini kembali kami tekankan untuk selalu menjaga sanitasi kandang yang baik, program vaksinasi dan penyemprotan dengan bahan pembasmi kuman dan bibit penyakit untuk menekan tingkat penyakit yang mungkin ada dan terbawa di kulit telur tetas.

Pemberian vitamin dalam air minum yang bersih dan diganti setidaknya 2 kali sehari, makanan dengan komposisi yang seimbang dalam nutrisi dan jumlahnya juga membantu dalam mendapatkan telur tetas yang ber kualitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s