Telur Bening Masalah Utama

Telur Bening, Masalah Utama Penetasan

Saat diterawang telur yang tidak menetas sering kali tampak bening atau terang. Berikut penyebab telur tidak menetas dan tampak terang atau bening:

  • Telur Infertil. Adalah telur yang tidak dibuahi oleh pejantan. Selain itu, telur infertil bisa juga disebabkan telur mengalami transportasi yang jauh atau terlalu lama rentang waktu dari proses peneluran hingga dimasukan ke dalam mesin tetas, sehingga tali pengikat kuning telur menjadi putus. Hal ini menyebabkan embrio mati sebelum berkembang lebih jauh.

Telur bening gagal menetas

  • Penempatan telur yang tidak benar. Penempatan telur yang salah di dalam mesin sangat mungkin dilakukan oleh karyawan yang masih baru. Posisi kantong udara yang berada dibawah (menungging) menyebabkan kantong tertekan embrio seh­ingga embrio mengalami kesulitan bernapas dan akhirnya mati.
  • Fumigasi telur yang terlalu lama. Telur yang difumigasi lebih dari 20 menit dapat menyebabkan embrio mati. Hal ini disebabkan embrio tidak tahan terhadap akumulasi penyerapan formaldehid selama proses fumigasi yang lama.
  • Kematian embrio yang sangat dini. Telur akan menetas atau embrio keluar dari telur setelah dierami dengan mesin tetas selama 21 hari. Namun, ada kalanya embrio mati sebelum umur 21 hari sehingga telur tampak bening karena tidak berembrio.

Pembibitan unggas terutama ayam kampung dan itik yang selama ini dilakukan oleh peternak di pedesaan kini sudah meningkat menjadi usaha yang dikelola secara intensif. Ini merupakan buah dari perkembangan teknologi informasi sehingga kemampuan mengadopsi teknologi oleh masyarakat perdesaan juga meningkat. Begitu juga dengan teknologi di bidang pembibitan unggas, khususnya dalam penerapan penggunaan mesin penetas untuk menetaskan telur. Proses penetasan telur dengan menggunakan mesin penetas, asal memenuhi syarat-syarat yang memenuhi standar seperti panas, kelembaban, perputaran udara dan kebersihan telur dapat diperkirakan hasilnya.

Beragam hasil yang akan dicapai dalam proses penetasan telur. Apabila telur menetas dengan baik maka perasaan puas yang akan dirasakan, akan tetapi bila telur banyak yang tidak menetas alias gagal menetas maka perasaan kecewa yang akan muncul dan akan timbul tindakan mencari biang kegagalan. Mulai dari sikap menyalahkan pihak lain sampai-sampai anggapan negatif akan muncul secara beruntun tanpa disertai dengan evaluasi dari kegiatan atau tindakan yang telah dilakukan. Nah untuk menghindari hal-hal tersebut kami mencoba mengangkat judul ini agar kita lebih dewasa dalam mengambil keputusan, menjalankan usaha, dan untuk diambil pengalaman tentunya.

Ada dua istilah penting dalam proses penetasan telur dengan mesin penetas, pertama daya fertilitas dan yang kedua daya tetas. Daya fertilitas adalah persentase jumlah telur yang fertil (dibuahi, dikawini) dari jumlah telur yang kali pertama masuk mesin tetas. Semakin tinggi angka yang diperoleh maka semakin baik pula kemungkinan daya tetasnya. Hal-hal yang mempengaruhi daya fertilitas antara lain: asal telur (hasil dari perkawinan atau tidak), ransum induk, umur induk, kesehatan induk, rasio jantan dan betina, umur telur, dan kebersihan telur.

Pernah ada pertanyaan yang masuk kepada kami yaitu apakah telur yang kita beli dari tukang jamu atau pasar dapat ditetaskan? Maka kami jawab, asalkan telur itu hasil dari perkawinan, dan umurnya tidak terlalu lama maka masih bisa ditetaskan. Tetapi zaman sudah berubah sebagai akibat reformasi di segala bidang. Apabila anda pergi ke pasar dan hendak membeli telur ayam kampung maka telur ayam arablah yang akan anda terima. Mengapa? Karena pasar kita sudah memberi label telur ayam kampung pada telur ayam arab. Sehingga kalau anda ingin membeli telur ayam kampung asli maka anda perlu menambahkan kata ASLI jika anda membeli telur ayam kampung di pasar.

Sedangkan daya tetas adalah persentase jumlah telur yang menetas dari jumlah telur yang fertil. Nah untuk masalah yang satu ini baru diketahui setelah proses penetasan berakhir. Di antara faktor yang mempengaruhi antara lain operator dan mesin tetasnya sendiri. Seorang operator mesin tetas mempunyai tanggug jawab penuh mulai telur masuk pertama kali hingga proses penetasan selesai. Hal-hal yang dilakukan oleh seorang operator adalah pengontrolan suhu, kelembaban, pemutaran atau pembalikan telur, peneropongan telur dan fumigasi mesin tetas. Sedangkan kualitas mesin tetas adalah tanggung jawab produsen mesin tetas sepenuhnya. Sehingga untuk mengetahui kualitas mesin adalah dengan bertanya langsung kepada yang sudah menggunakannya atau dengan mencobanya langsung.

Kalau kita sudah mengetahui dan memahami arti kedua istilah tersebut (daya fertilitas dan daya tetas) maka sudah ada gambaran sekarang mengapa telur telur unggas kita gagal menetas. Coba anda ingat-ingat faktor apa yang telah sampai menggagalkan proses penetasan anda kali ini. Kalau sudah ketemu maka buat catatan tersendiri untuk bahan evaluasi proses penetasan berikutnya.

Ada satu lagi faktor yang cukup penting tetapi sering diabaikan oleh para pembibit unggas yaitu masalah penyakit. Penyakit pada telur tetas umumnya jarang dijumpai pada usaha pembibitan yang berskala besar karena secara khusus penularan penyakit pada telur tetas tersebut pasti telah diantisipasi dengan memotong jalur penyebarannya yaitu dengan penyucihamaan telur dan ruangan mesin tetas dengan desinfektan. Tetapi pada peternakan rakyat dengan model pemeliharaan ekstensif usaha untuk mendapatkan telur tetas yang bebas penyakit masih mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan peternak dalam mendeteksi dan membasmi penyakit yang ditularkan melalui telur.

Apa risiko dari penyebaran penyakit yang diturunkan dari induk ke telur? Jawabnya yaitu penyakit tersebut dapat menyebabkan daya tetas telur menurun. Dan apabila anak ayam itu terus hidup, ayam tersebut mempunyai pertahanan tubuh yang lemah serta mudah terserang penyakit dan risiko paling tinggi adalah kematian. Penularan penyakit melalui telur terjadi pada saat proses pembentukan telur sedang berlangsung pada saluran telur ayam betina. Sehingga apabila saluran telur sudah tercemar virus atau bakteri penyakit tertentu, maka telur yang terbentuk akan membawa bibit bakteri atau virus tersebut baik selama proses penetasan berlangsung dan setelah telur itu menetas.

Untuk mencegah penularan penyakit pada telur, maka induk yang menghasilkan telur tetas harus selalu diperhatikan kesehatannya dengan melakukan vaksinasi dan pengobatan teratur. Selain itu juga tetap menjaga sanitasi lingkungan sekitar baik kandangnya langsung ataupun peralatan ternaknya dan juga nutrisi pakan dari induk tersebut. Bagaimanapun juga kondisi tubuh yang kurang sehat akan mudah terserang penyakit. Perlakuan penyucihamaan telur dan ruangan mesin tetas akan meminimalkan dan bisa memutus penyebaran penyakit tertentu.

Kesimpulannya adalah dengan pengaturan suhu yang stabil antara 38-39oC (100-103oF), kelembaban sekitar 60-70% dan aliran udara yang tepat merupakan syarat mutlak agar proses penetasan telur berhasil dengan baik. Apabila syarat teknis ini telah terpenuhi, maka dengan memilih telur dari induk yang unggul, sehat dan memiliki ukuran serta bentuk yang normal, maka usaha penetasan tersebut akan memberikan hasil yang lebih baik. Dan yang penting sekarang kita sudah mengetahui dan mengerti apa yang harus kita perbuat apabila telur yang kita tetaskan gagal menetas. Mungkin anda perlu juga untuk membaca artikel kami dengan judul memilih calon induk, seleksi telur tetas, fak­tor penentu penetasan dan analisis kegagalan dalam penetasan telur unggas. www.sentralternak.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s