Bergantung Impor

Bergantung Impor

Suplai bibit unggas, ayam misalnya, masih bergantung pada impor dari luar negeri misalnya Amerika Serikat. Dalam hat ini, Indonesia belum bisa mandiri dan melepaskan diri dari jeratan impor. Hal itulah yang justru merugikan Indonesia, di mana harga bibit ayam mahal sehingga keuntungan peternak lokal semakin kecil. Tidak hanya bibit, obatan-obatan, pakan dan sebagainya juga banyak disuplai dari luar negeri. Padahal, kalau kita bisa mandiri dengan kemampuan menyuplai kebutuhan bibit ayam dalam negeri, niscaya usaha perunggasan nasional kian membaik.

Tempo pernah meliput terkait kondisi bangsa Indonesia yang tak mampu melepaskan diri dari jeratan impor. Berikut laporannya.

“Direktur Pembibitan Ternak Kementerian Pertanian, Abubakar, mengatakan impor bibit ayam ras terus mengalami kenaikan. Sampai bulan ini total impor induk ayam bakalan tipe grand parent stock menjadi 433.240 ekor. Jumlah ini melonjak dibandingkan impor pada 2007 sebanyak 361.460 ekor.

Menurut Abubakar, impor dilakukan karena industri bibit unggas masih sedikit. “Industri ini padat teknologi dan padat modal,” ujarnya kemarin. Impor bibit unggas sejatinya bisa dikurangi dengan menata ulang industri, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Selain itu, “Struktur kelembagaan dan pembiayaan juga harus ditata ulang.”

Di sektor hulu, misalnya, perlu ada penataah sertifikasi, pengawasan, hingga pakan yang masih bergantung pada impor. Di sektor budidaya, penataan dimu lai dari wilayah dan kawasan, khususnya penularan penyakit pada unggas. Sedangkan di sektor hilir, perlu dilakukan rantai perdagangan unggas dan sarana pendukungnya mulai dari rumah potong unggas, pasar, hingga pengangkutan karkas dan kotoran ternak.

Ketergantungan akan impor bibit ayam ras ini karena jumlah industri masih terbatas. Ayam jenis grand parent stok dan parent stock ini juga belum bisa diproduksi di dalam negeri.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas, Krissantono, mengatakan baru 12 pernsahaan yang menyediakan bibit ayam grand parent stock dan 39 perusahaan memasok induk ayam ras jenis ini.

Sedangkan peternak yang memelihara, merawat, dan membesarkan ayam final stock tersebar di seluruh Indonesia. Jumlahnya mencapai 63.321 rumah tangga.

Induk ayam ini akan menghasilkan telur yang menetas menjadi anak ayam atau day old chicken (DOC), untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat In donesia yang rata-rata 31 juta ekor per minggu. Jumlah ini setara dengan 1.612 juta ekor setahun.

Namun kebutuhan ayam untuk dikonsumsi diperkirakan meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Setiap orang membutuhkan asupan protein sebesar 6-7 kilogram daging ayam dan 5 kilogram telur ayam pertahun.

Kris menambahkan, industri juga masih mengandalkan impor untuk mesin dan peralatan pemeliharaan anak ayam. “Karena untuk kapasitas yang besar, rata rata perusahaan kita masih memerlukan peralatan atau mesin dari Amerika Serikat, Eropa, dan Cina.”

Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (Asohi) Rakhmat Nuriyanto memperkirakan bisnis perunggasan akan cerah. “Tahun ini meningkat hingga enam persen. Produksi anak ayam broiler meningkat 6,1 persen menjadi 1,3 miliar ekor. Produksi pakan untuk unggas khususnya ayam juga naik 6,2 persen hingga 10,3 juta ton,” ujarnya.

Industri perunggasan mampu menyerap 2,5 juta tenaga kerja. Tingkat perputaran uang mencapai Rp 80 triliun dengan omzet sekitar Rp 120 triliun per tahun. “Industri ini masih terbuka luas sehingga peran sumber daya manusia tidak bisa diabaikan,” kata Kris.”

Dengan demikian, semakin banyak usaha penetasan telur di Indonesia, kita berpotensi lepas dari jeratan impor. Hal itu tentu saja mensyaratkan adanya teknologi penetasan telur yang cukup memadai. Usaha pembuatan mesin tetas selalu linear dengan usaha penetasan bibit dan juga budidaya pembesaran unggas.

Jika usaha pembibitan unggas menggeliat, ini berarti peluang yang besar bagi bisnis pembuatan mesin tetas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s