Mesin Tetas Manual/Sederhana

Mesin Tetas Manual/Sederhana

Beberapa peternak masih menggunakan mesin tetas manual, karena harganya yang lebih murah dibandingkan dengan mesin tetas otomatis. Selain itu, kapasitas mesin ini tidak terlalu besar, sehinga cocok digunakan peternak skala kecil. Mesin tetas manual bisa dibeli dari produsen mesin tetas atau dibuat sendiri. Namun, kebanyakan peternak membuat sendiri, sehinga kapasitas mesin tetas manual bervariasi, tidak ada yang baku.

 

http://dc300.4shared.com

Mesin tetas sederhana dari bahan triplex

Umumnya, mesin ini berkapasitas puluhan hingga ratusan butir, hampir sama dengan kapasitas mesin tetas semi-otomatis. Perbedaannya, pembalikan telur di mesin tetas manual dilakukan oleh peternak, sedangkan pada mesin semi-otomatis, pembalikan telur dapat dilakukan secara otomatis.

Dasar pemikiran penggunaan mesin tetas sederhana atau mesin tetas otomatis adalah besar kecilnya skala usaha, modal yang tersedia, dan sifat usaha penetasan. Jika usaha penetasan hanya bersifat sambilan (sekitar 100 butir per periode), maka mesin tetas sederhana bisa digunakan. Asalkan seorang penetas dapat melakukan pembalikan secara disiplin, maka pada skala berapa pun mesin penetas sederhana masih bisa digunakan.

Mesin tetas sederhana dapat dibuat dari kardus, styrotoam bekas vaksin, galon air, dan tripleks. Berikut hal yang harus diperhatikan dalam mengelola mesin tetas manual sederhana:

  1. Pengatur temperatur (thermoregulator) berupa thermostat untuk mesin tetas sederhana. Hal terpenting, sumber pemanas harus berada jauh dari telur, agar sudut jatuh antara telur dan sumber panas tidak jauh beda. Sumber pemanas penetas sederhana adalah lampu pijar atau kawat nikelin yang dialiri listrik. Arus listrik yang digunakan bisa arus listrik bolak-balik (AC 220 Volt atau 110 Volt) ataupun arus searah (DC 12 Volt). Selain itu, dapat juga menggunakan lampu minyak tanah yang udara panasnya dialirkan melalui pipa seng tipis diatas telur-telur unggas tersebut.
  2. Untuk menjaga kelembaban di dalam mesin tetas manual sederhana, di bawah rak telur perlu diberikan air. Air ini biasanya diletakan dalam nampan.
  3. Ventilasi mutlak diperlukan untuk pernapasan embrio. Karena itu, alat tetas sederhana tersebut harus diberi lubang kecil dalam jumlah yang cukup disemua sisi. Secara alami, udara panas dalam mesin tetas akan naik dan keluar melalui lubang atas, sedangkan udara luar yang lebih dingin akan masuk melalui sisi bawah mesin tetas.
  4. Untuk mengetahui mesin tetas beroperasi dengan sempurna atau tidak, lakukan pengecekan suhu setelah mesin tetas menyala selama enam jam. Selama waktu itu seharusnya suhu mesin mencapai 38oC secara konstan.
  5. Cara meletakan telur tetas yang baik pada mesin tetas sederhana maupun mesin tetas otomatis adalah secara horisontal dengan pembalikan sebesar 180 derajat. Kondisi tersebut adalah yang sebenarnya terjadi saat ayam mengerami telur. Pemutaran 180 derajat akan menghasilkan daya tetas 4-5% lebih tinggi dibandingkan dengan telur yang diputar 90 derajat (karena posisi telur dalam keadaan berdiri). Pemutaran telur dilakukan 3 kali sehari, pagi, siang dan malam hari.

http://www.kaskus.us

Mesin tetas sudah jadi dengan pemanas lampu pijar

Pada sisi permukaan telur yang berlawanan diberikan tanda yang berbeda untuk memudahkan kita mengetahui pergantian posisi telur karena pemutaran. Misalnya satu sisi telur diberikan tanda “X” sedangkan pada sisi yang berlawanan diberi tanda “O”.

  1. Berbeda dengan telur bebek yang bisa dilakukan candling sehari setelah masuk inkubator, candling atau peneropongan embrio pada telur ayam kampung dilakukan minimal saat telur berumur 5 hari di dalam inkubator. Apalagi, mengingat tebal tipisnya kulit telur kampung yang tidak merata. Pada usia 5 hari, telur ayam yang tidak berembrio bisa diambil dan masih layak untuk dikonsumsi. Bagi pelaku penetasan yang sudah ahli, candling dapat dilakukan pada telur yang berumur 2-3 hari di dalam inkubator.
  2. Pada mesin tetas sederhana ruangan inkubasi (pengeraman atau setter) sekaligus merupakan ruang penetasan (hatcher). Setelah telur menetas, mesin dan rak telur harus segera dibersihkan dan di desinfeksi, ventilator dibersihkan. Sementara lampu, tegangan listrik, dan peralatan lainya diperiksa agar ketika digunakan lagi mesin dapat memberikan hasil yang optimal. http://mesin-tetas-cuf.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s