Incubator

Incubator

Pada halaman web yang terpisah, kita ketahui dan telah diterangkan bahwa banyak tipe incubator dengan kemampuannya menetaskan telur mulai dari beberapa butir telur sampai dengan puluhan ribu bahkan ratusan ribu butir telur untuk sekali penetasan. Secara garis besar incubator hanya dikelompokkan menjadi 2 tipe dasar yaitu tipe forced air (dengan sirkulasi udara) dan still air (tanpa sirkulasi udara).

Di Indonesia (Jakarta), kami hanya menemukan tipe still air yang banyak dijual di dengan kapasitas mulai dengan 40, 100, 200 butir telur, walau pada prakteknya yang berkemampuan 100 butir hanya bisa dipakai untuk menetaskan 70 butir agar ada cukup ruang, tidak terlalu padat dan baik daya tetasnya. Jenis ini membutuhkan banyak penanganan dalam pemutaran telur yang biasanya dilakukan sedikitnya 3 kali sehari Secara satu persatu dan dengan cara membuka tutup incubatornya. Suhu penetasannya selalu dibuat 2° sampai 3oF lebih tinggi dari type forced air atau sekitar 102o sampai 103°F. Hal ini karena panas untuk penetasan dirambatkan melalui udara dari bohlam lampu diatasnya.

Kami juga pernah menghubungi sebuah badan usaha di Jogjakarta yang khusus membuat incubator type forced air dan full otomatik dengan daya tampung telur minimum 7.000 telur tetas. Incubator ini menggunakan sistem komputer yang terprogram untuk pengaturan suhu dan kelembaban udara. Sedangkan telur tetas di dalamnya di letakkan dalam tray-tray di dalamnya untuk pemutaran telur Secara otomatis berdasarkan program dan perubahan sudut secara periodik 24 jam penuh.

Selain itu sampai saat ini belum ada yang menjual mesin tetas dengan daya tampung 500, 1.000 atau 2.000 butir telur tetas yang dijual di pasaran. Hal ini mungkin berhubungan dengan faktor ekonomis dan kebutuhan pasar.

Kami membuat sendiri incubator sesuai kebutuhan kami yaitu type forced air dengan kapasitas 500 butir, sirkulasi udara panasnya menggunakan motor fan dan pemanasan yang bersumber dari bohlam lampu yang diletakkan di ruang bagian belakang incubator. Untuk telur tetas kami juga menggunakan sistem tray bertingkat tingkat dan semi otomatik, karena pemutarannya tidak dengan motor yang terprogram tetapi dengan tuas yang ditarik dan ditekan untuk membuat perputaran telur-telur di tray secara bersamaan untuk semua tray dan kami lakukan perputarannya 5 kali sehari yaitu jam 6, 10, 14, 18 dan 22. Demikian seterusnya dengan mengandalkan tenaga orang tetapi tanpa membalik telur secara manual dan membuka buka incubator. Jauh lebih praktis tentu­nya.

Ada 2 buah incubator yang kami pakai, Incubator yang pertama kami gunakan sebagai incubator pengeram karena untuk keperluan kami, kami menggunakan incubator ini secara berkala dengan selalu memasukkan telur tetas setiap 3 hari dengan posisi tray yang bergantian pada 4 tray vertical yang ada di dalamnya. 1 try dalam incubator ini dapat memuat 150 butir telur.

Bila usia telur tetas dalam proses “pengeraman” tadi telah mencapai usia 18 hari, maka kami memindahkannya dan menggunakan incubator yang kedua sebagai “penetas”. Selama 3 hari berikutnya sampai menetasnya telur-telur tadi dan membiarkan anak ayam (DOC) tersebut sedikitnya 12 jam dan selamanya 24 dalam mesin penetas ini untuk kemudian dipindahkan ke kandang box. Biasanya 1 tray dengan 150 butir telur tersebut memerlukan 2 tray bertingkat untuk penetasan dalam incubator “penetas” (hatching). Hal ini dimaksudkan agar tersedia cukup ruang untuk DOC dan mempercepat proses pengeringan DOC yang menetas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s